Live Streaming RADIO VNK 107,3 FM SUMEDANG

Kamis, 09 Februari 2017

14 Destinasi Wisata Wajib Dikunjungi di Kota Sumedang

Berkunjung ke Sumedang selain berburu jajanan tahu wisatawan juga wajib mampir ke tempat-tempat keren yang tersebar di seluruh wilayahnya. Sebagian besar wilayah kabupaten ini bertopografi pegunungan sehingga air terjun dan gunung adalah destinasi wajib yang harus kalian sambangi. Langsung saja ayo kita jelajahi destinasi wisata di Kota Tahu ini.

1. Kalau Berani Mencicipi Wisata Mistis, Kunjungi Gunung Kunci

Gunung Kunci adalah tempat bersejarah yang terletak tidak jauh dari pusat Kota Sumedang. Di kawasan ini terdapat benteng peninggalan zaman Belanda yang konon digunakan sebagai tempat penyiksaan. Tak heran jika nuansa mistis sangat terasa kala memasuki kawasan Bentang Gunung Kunci.
Benteng Gunung Kunci pernah dijadikan sebagai lokasi syuting acara misteri yang ditayangkan oleh televisi nasional. Hal ini semakin membuktikan jika kawasan ini memang mempunyai aura mistis yang cukup besar. Terlepas dari cerita misteri yang berkembang di sekitar Gunung Kunci, tempat ini kini juga menjadi destinasi traveler untuk berburu fotografi dengan latar belakang bangunan jadul yang keren.

2. Jembatan Cincin, Jembatan Kerata pai Bersejarah yang Penuh Misteri

Jembatan Cincin, via instagramPada tahun 1918 perusahaan kereta api milik Belanda membangun sebuah jembatan yang menghubungkan antara desa Cikuda dan desa Cisaladah di kecamatan Jatinangor, Sumedang. Jembatan tersebut kemudian diberi nama Jembatan Cincin dan menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat.
Bangunan Jembatan Cincin masih ada hingga sekarang hanya saja perawatannya sudah tidak diperhatikan lagi dan terkesan terbengkalai. Sejak itu muncullah cerita-cerita misteri di sekitar jembatan yang bagian bawahnya adalah tempat pemakaman umum itu. Banyak warga yang bercerita setiap malam orang yang melintasi jembatan tersebut selalu ditemui sosok wanita yang minta ditemani menyeberang jembatan.

3. Kampung Toga, Destinasi Untuk Sekedar Rekreasi Hingga Menguji Batas Nyali

Tidak sulit mencari tempat rekreasi yang lengkap di Sumedang. Traveler tinggal berkunjung ke Kampung Toga yang berjarak 2 kilometer dari pusat kota. Kampung Toga adalah kawasan wisata terpadu yang mempunyai fasilitas lengkap.Diantaranya kawasan ini menawarkan sejumlah wahana seru yang ramah untuk aktivitas liburan keluarga. Tersedia pula aneka villa dan cottage untuk bermalam. Bahkan traveler yang ngaku punya cukup nyali bisa mencicipi berbagai wahana outbond dan juga terbang bebas ala paralayang dari atas bukit di Kampung Toga.

4. Para Petualang, Gunung Tampomas Siap Menati Kamu Bertandang

Kabupaten Sumedang mempunyai Gunung Tampomas sebagai puncak tertinggi. Ukurannya memang tidak tinggi-tinggi amat hanya sekitar 1.684 mdpl, pendaki pemula sekalipun bisa mendaki ke puncaknya tanpa hambatan yang berarti.
Gunung Tampomas, via instagram Gunung Tampomas menunggu para petualang untuk mendaki ke puncak Sangiang Taraje, puncak tertinggi dari gunung ini. Dari puncak gunung tersebut traveler bisa menikmati pemandangan kota Sumedang dari ketinggian. Kalau kemping atau datang di malam hari, puncak gunung ini adalah spot yang kece untuk melakukan city light hunting. Menuju ke puncak Gunung Tampomas bisa dilakukan dari beberapa jalur seperti jalur Narimbang, Cibeureum dan Buahdua.



Mata Air Cikandung, via instagram5. Mata Air Cikandung, Bikin Hasrat Untuk Berenang Tak Bisa Dibendung

Sebuah danau yang tidak begitu luas namun mempunyai air yang jernih serta dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun bisa traveler temukan di dusun Sukasari, desa Nyalindung, kecamatan Cimalaka, kabupaten Sumedang. Danau tersebut dikenal memiliki nama Mata Air Cikandung.
Suasana di sekitar Mata Air Cikandung memang masih sangat asri. Walaupun bukan tempat wisata tapi danau ini sering dikunjungi traveler dari wilayah sekitar Sumedang. Mereka yang datang umumnya tidak tahan kalau hanya memandangi air danaunya yang jernih. Tentu saja paling asyik menikmati suasana danau ini dengan berenang mencicipi segarnya Mata Air Cikandung.

6. Menikmati Lanskap Kota Sumedang Dari Puncak Gunung Batu

Gunung Batu, via instagramSelain Gunung Tampomas, menikmati pemandangan kota Sumedang juga bisa dilakukan dengan mendaki Gunung Batu. Gunung yang terbentuk dari batuan cadas ini terletak di desa Rancabawang, kecamatan Tanjungsari. Kawasan ini pernah menjadi salah satu destinasi wisata komersil sehingga untuk masuk ke dalam kawasan Gunung Batu wisatawan harus membayar sejumlah tiket masuk.
Usaha pemerintah kabupaten Sumedang tersebut tidak bertahan lama karena pengunjung yang datang ke kawasan tersebut semakin menurun lantaran diterpa berbagai isu. Isu yang paling santer terdengar adalah adanya keranda yang terbang sendiri di puncak Gunung Batu. Kini hanya beberapa traveler saja yang datang ke puncak gunung ini, keindahan pemandangan kota Sumedang dari puncak gunung berhasil mengalahkan rasa takut wisatawan yang berkunjung.

7. Situ Cilembang, Danau Sebening Kaca di Sumedang

Situ Cilembang, via instagramSatu tempat yang lagi hits banget di Sumedang untuk berfoto-foto yaitu Situ Cilembang. Danau ini mempunyai julukan sebagai Labuan Cermin Cilembang Sumedang lantaran airnya yang sangat bening seperti Danau Labuan Cermin di Kalimantan Timur.Situ Cilembang bisa traveler temukan di dusun Curug, desa Hariang, kecamatan Buahdua. Dalam beberapa waktu terakhir tempat ini sangat ramai dikunjungi traveler lantaran pemandangannya yang indah serta air danaunya yang biru sangat jernih.

8. Curug Cigorobog, Air Terjun Tiga Tingkat yang Bikin Kamu Bakal Terpikat

Curug Cigorobog, via instagramKawasan gunung, perbukitan dan air terjun banyak di jumpai di Sumedang selatan yang notabene kawasan tersebut merupakan kawasan dataran tinggi. Seperti halnya di desa Citengah, kecamatan Sumedang Selatan ini, ada air terjun tiga tingkat yang bakal bikin traveler terpikat dengan pesonanya.Adalah Curug Cigorobog, air terjun tiga tingkat dengan ketinggian sekitar 40 meter di tengah hutan siap mengisi ulang energi wisatawan yang bertandang. Alam di sekitar air terjun ini relatif masih alami yang bikin pengunjung betah berlama-lama di sini. Untuk datang ke Curug Cigorobog traveler harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari pusat kota Sumedang.

9. Curug Ciputrawangi, Alternatif Wisata Air Terjun yang Layak Untuk Disambangi

Curug Ciputrawangi, via instagramCurug Ciputrawangi terletak di desa Narimbang, kecamatan Conggeang dan menjadi alternatif wisata alam yang layak untuk traveler kunjungi. Pasalnya curug ini dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang rindang dan udara sejuk. Keberadaannya sendiri termasuk di dalam kawasan taman Wisata Gunung Tampomas.Sebelumnya traveler harus melakukan trekking dengan kondisi medan yang menanjak berupa jalan setapak. Butuh fisik yang prima untuk menuju ke lokasi curug. Lokasi air terjun ini sendiri berada di dekat perbatasan antara Sumedang dengan Indramayu sehingga pada hari libur kebanyakan pengunjung yang datang ke sana berasal dari Kota Mangga tersebut. Sayangnya di lokasi yang tersembunyi seperti ini sudah ditemukan banyak sampah plastik dan corat-coret di dinding batu. Hal tersebut sangat disayangkan.

10. Kebun Teh Margawindu, Refleksi Keasrian Alam Sumedang

Kebun Teh Margawindu, via instagramTraveler yang sebelumnya berencana menyambangi Curug Cigorobog, pasti akan melintasi sebuah hamparan perkebunan teh yang menghijau. Kawasan hijau di dataran tinggi berisi tanaman teh ini bernama Perkebunan Teh Margawindu. Pemandangan di kawasan ini sangat memanjakan mata apalagi buat traveler yang kesehariannya hanya dihadapkan pada pemandangan deretan bangunan beton.Perkebunan Teh Margawindu menjadi tempat yang pas untuk wisatawan menikmati udara pegunungan yang bebas polusi. Hanya saja kalau menuju ke tempat ini, butuh perjuangan yang agak berat. Kondisi jalan banyak yang rusak, cukup menguras tenaga dan juga stamina. Hal ini disebabkan pihak pengelola perkebunan tidak lagi memperpanjang kontrak pengurusan kebun.

11. River Tubing di Sumedang

River Tubing di Sumedang, via instagramSiapa bilang liburan di Sumedang tidak bisa bermain river tubing ala Green Canyon di Pangandaran? Kegiatan ekstrim pemacu adrenalin ini bisa traveler lakukan di Kota Tahu. Syaratnya kalian harus datang ke kawasan desa Cipancar, Sumedang Selatan.Buat traveler yang punya jiwa petualang tinggi, river tubing adalah kegiatan yang cocok untuk dicicipi. Hanya saja untuk mencoba kegiatan ini setiap traveler harus melakukan booking lebih dulu pada operator penyedianya yaitu Kalahari Adventure. Kontaknya bisa langsung kamu lihat dengan klik tautan sumber gambar di atas.

12. Kunjungi Waduk Jatigede yang Penuh Kontroversi

Selagi liburan di Sumedang sempatkan pula berkunjung ke waduk yang menuai banyak polemik, yaitu Waduk Jatigede. Waduk ini telah dirintis sejak zaman presiden Soekarno dan proses penggenangannya sendiri baru bisa dilakukan pada era Jokowi pada akhir Agustus 2015 silam.
Pembangunan waduk dengan menanggul aliran sungai Cimanuk yang sejatinya berfungsi sebagai sarana irigasi, pembangkit listrik, budidaya ikan air tawar serta sarana rekreasi ini banyak mendapat tentangan dari warga. Hal ini disebabkan banyaknya kawasan pemukiman yang terdampak serta situs-situs sejarah yang berada di lokasi pembangunan. Meski pembangunannya sempat tertunda dalam waktu yang sangat lama akhirnya waduk ini pun bakal memasuki tahap akhir dalam beberapa tahun mendatang.

13. Blusukan ke Curug Cipongkor yang Masih Tersembunyi

Curug Cipongkor, via instagram
Buat yang hobi blusukan ada satu air terjun terakhir yang harus dikunjungi yaitu Curug Cipongkor di desa Ciherang, kecamatan Sumedang Selatan. Bagi pecinta alam di Kota Tahu nama Curug Cipongkor memang tidak asing namun buat traveler yang berada di luar daerah akan kesulitan menemukan keberadaannya.Curug Cipongkor belum dikembangkan menjadi destinasi wisata komersil. Konsekwensinya, tidak ada petunjuk arah yang menjadi penanda menuju ke lokasi. Satu-satunya cara untuk menemukan air terjun setinggi 30 meter ini adalah dengan bertanya warga yang tinggal di desa Ciherang. Jalan menuju ke lokasi air terjun pun masih dalam kondisi yang buruk, siapkan stamina dan perbekalan yang cukup kalau mau ke curug ini.

14. Museum Prabu Geusan Ulun, Daftar Terakhir Yang Wajib Dikunjungi

Museum Prabu Geusan Ulun, via instagramSetelah semua destinasi wisata keren di Sumedang selesai dikunjungi, saatnya melakukan penutupan dengan datang ke Museum Prabu Geusan Ulun. Jenis wisata yang ditawarkan tentu saja berupa wisata sejarah. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang lupa dengan sejarah kita sendiri, oleh sebab itu setiap datang ke suatu daerah cari tahu apakah daerah itu punya museum. Jika iya, kalian wajib menyempatkan waktu untuk menyambanginya.Museum Prabu Guesan Ulun menyimpan aneka koleksi peninggalan leluhur Sumedang. Bagaimana awal mula kabupaten ini berdiri hingga nama-nama bupati yang menjabat di Sumedang sejak zaman VOC bisa pengunjung temukan di museum tersebut. Wawasanmu akan semakin luas dengan berkunjung ke museum yang terletak di dekat alun-alun kota Sumedang ini.

Sumber : Travelling yuk.com







Kamis, 26 Januari 2017

ALL CREW RADIO VNK FM SUMEDANG

Joni Alfaqih Dulatif ini dia nih Pecinta VNK yang kerjaannya masukin lagu,, kira-kira Music Director lah..begitu..

ALL CREW RADIO VNK FM SUMEDANG


Anang Ardiyansyah saat wawancara testimoner,BP Amir Leuwi seeng, Majalengka..

ALL CREW RADIO VNK FM SUMEDANG

Ini dia announcer # Ngalasarung mengudara di radio VNK Selasa,Rabu,Kamis,Jumat,dan Minggu jam 21.00-00.00 WIB, @ Cecep Darkat

ALL CREW RADIO VNK FM SUMEDANG


TALKSHOW INDONESIA SEHAT

Program yang disiarkan oleh lebih dari 50 Radio Mitra Upserries di seluruh Indonesia. Tayang juga di Radio VNK 107,3 FM Sumedang. Acara ini Tayang setiap hari Senin jam 14.05-14.45 WIB, Selasa Jam 10.00-11.00 WIB, Rabu dan Kamis Jam 14.05-14.45, Jumat Jam 10.00-11.00,Sabtu Jam 14.05-14.45 WIB. Acara ini di harapkan bisa memberi manfaat lebih untuk konsumen Bio 7 dan masyarakat Indonesia. Pendengar juga bisa interaktif mengajukan pertanyaan seputar topik yang tengah di bahas. Acara yang di persembahkan oleh PT UNIMAX POWER Jakarta ini, diharapkan dapat menjadi media komunikasi unruk khalayak Sahabat sehat Bio 7.

Minggu, 22 Januari 2017

NAPAK TILAS SUMEDANG LARANG Nyi Mas Mayang Kusumah Srikandi Ti Pajajaran

Kasebut dina Babad carita Pajagan (Pangjagaan) ngeunaan salah sawios tokoh anu katelah SangHyang Ambu/Eyang Ambu, mantena rayi Mbah Gede/Ki Ajar Gede (Prabu Layang Dikusumah) ti Pajajaran nu ngiring sareng rombongan 4 Kandaga Lante basa masrahkeun Makuta ka Sumedang, Eyang Ambu pribadi jenengan aselina: Nyi Mas Mayang Kusumah, kacarioskeun anjeunna masih parawan kapalang basa kedah lunta ti Pajajaran ngiring sareng ingkang raka oge rombongan 4 Kandaga Lante alatan nagara burak, Pajajaran runtag, ari jalan anu ditempuh ku rombongan malibir mapay sisi basisir laut kidul awalna ti wilayah Jampang kulon tempat panungtungan Prabu Silihwangi (Prabu Nila Kendra) lungsur uga wangsit, tapak tilasna ayeuna jadi Jalan lintas Selatan ti Pandeglang (Karaton Pulo Sari baheula) ka Jampang - Ranca Buaya - Garut parat ka Batu Karas, malibir ka pasisian kidul sasat ngahaja nyingkahan pasukan musuh nu harita ngarurug nagara (gabungan Demak - Cirebon - Surasowan Banten) maksad bade nepangan salah sawios sesepuh Pajajaran anu mukim di Limbangan nyatana Sunan Rumenggong (Prabu Layaran Wangi/Bujangga Manik) anu dipancenan ngadegkeun nagara KARTA RAHAYU (nagara Darurat), 4 Kandaga Lante maksad nyungkeun kamandang saran bongbolongan bubuhan keresa Sunan Rumenggong hiji sesepuh nu jembar luang pangalamannana, nya di dinya cariosna gelar sawala anu hasilna mufakat para sesepuh nyatujuan Makuta dipasrahkeun ka Sumedang najan teu saeutik anu teu saluyu tur ngaragukeun kana kasanggupan Sumedang geusan neruskeun tongkat estapet KAJAYAAN PAJAJARAN, tapi bahasa para sesepuh : "Nya ulah wara ngilo ka pageto anu can katenjo jeung kaalaman, urang bandungan bae kumaha geletuk batuna kecebur caina" (pantes ayeuna Sumedang ngalaman ngecebur cai ku ayana bendungan Jati Gede, tur Geletuk Batu ku tambang batu/keusik di Tampomas ditambak ku proyek tol Cisendawu) 

Cariosna di Limbangan Nyimas Mayang Kusumah tepang sareng saurang jajaka turunan Sri Batari Hyang ti Galunggung, duanana papada katarik geter simpati abong papada keur meujeuhna sengserang panon, sahingga eta jajaka ngiring sareng rombongan ka Sumedang, ku sabab perwatekna eta jajaka nu teuneung ludeung, leber wawanen tur parigel dina olah kanuragan sahingga digelaran KADIRAN (wanian), nalika Patih Jaya Perkosa dipaparinan pancen masrahkeun serat talaq Ratu Harisbaya ka Pangeran Giri Laya Cirebon, Patih Jaya Perkosa ngatur siasat keur ngajaga sagala kamungkinan, diantarana nyusun pasukan anu dipingpin ku Eyang Terong peot, Eyang Nangganan sareng Eyang Wirajaya di wewengkon Tomo bisi Cirebo malik ngarurug Sumedang, salian ti eta Patih Jaya Perkosa ngayakeun Barisan Pangjagaan ku nyiapkeun Pasukan di wilayah Pajagan kanggo ngamankeun Eyang Gusti Sunan Pada (mertua Prb.Geusan Ulun) anu asalna mangkuk di makam Waru - Karedok diamankeun ka tonggoh ka wilayah anu disebat PAGER AGEUNG sagedeng Gunung Cangkuang - Kendal sareng Gunung Jayagung.

Ieu Barisan Pangjagaan dijieun 3 Lapis:
1. Pageur Ageung (Pangjagaan) dipingpin ku Ki Ajar Gede (Prabu Layang Dikusumah) salaku Panglima Jurit (Komandan Kompi). Eyang Kadiran salaku Hulu Jurit (Komandan regu) didamping ku SangHyang Ambu anu harita tos janten garwana. Eyang Perbu ditugaskeun di Kendal, Buyut Purugul di Gunung Cangkuang, Eyang Kaula Jaya Kula Maya di Cipipisan tur Embah Suba di Gubrul.

2. Jami Bakih (Cilopang) dipingpin ku Embah Sacadinanga, Buyut Kalong jeung rengrengannana.

3. Pager Rucukan (Situraja) dipingpin ku Buyut Merah jeung rengrengannana.

Napak Tilas Sumedang Larang PANGERAN SANTRI

Pangeran Santri dikenal sebagai “Raja Sumedang” karena menikah dengan Ratu Pucuk Umum (katanya umum itu artinya sembah; jadi Pucuk Umum artinya “pupucuk nagara anu wajib sinembah” alias pimpinan tertinggi negara yang wajib disembah).
Asal-usul Pangeran Santri relatif agak kacau balau dalam berbagai tulisan. Ada yang menyatakannya sebagai Putra Pangeran Muhammad anak Pangeran Panjunan dari istrinya Siti Armilah. Pangeran Muhammad ini dikenal sebagai pengislam “Sindangkasih Majalengka” dan makamnya dipercaya ada di dekat Sindangkasih/Babakan Jawa, Majalengka. Versi lain keturunan Palembang. Nah ini cuplikan berbagai tulisan tentangnya.

Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun[m]. > Ratu Pucuk Umun[m] menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun[m] dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun[m], seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun[m] ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun[m] dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu:
1. Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)
2. Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.
3. Kiyai Demang Watang di Walakung. >
4. Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.
5. Santowaan Cikeruh.
6. Santowaan Awiluar.

Napak Tilas Sumedang Larang Nyi Mas Ratu Pucuk Umun, Tahun 1530-1578 M

Pusat Kerajaan Sumedanglarang ditetapkan di Kutamaya yang terletak di kawasan Sumedanglarang. Istana Kerajaan dibangun dari bahan baku serba kayu, menggunakan arsitek model Sunda dengan menghadap ke alun-alun Mayadatar. Simbol cita-cita Ratu Pucuk Umun dinukilkan dalam monument Kuta yang dibuat dari tanah dalam bentuk bulat dan membujur ke arah langit.

Kehadiran Pangeran Santri menjadi pendamping Ratu Pucuk Umun mendorong terhadap perkembangan kerajaan. Sentuhan-sentuhan Islam mulai berdenyut bahkan secara bertahap Islam berkembang dikalangan keluarga raja. Kemudian Pangeran Santri yang memusatkan perhatian kepada gerakan syiar Islam mendirikan sarana ibadah di lingkungan keraton. Secara berangsur-angsur dapat memperkuat keyakinan agama dikalangan keluarga raja.

Selain itu pengaruh Pangeran Santri mendorong terhadap hubungan Sumedanglarang dengan Cirebon baik dalam segi hubungan keagamaan, sosial politik dan ekonomi, termasuk hubungan seni budaya. Pendekatan seni budaya telah menunjukkan munculnya kegiatan seni yang bernafaskan Islam.seperti seni rebana, terebang yang dikenal oleh masyarakat pada saat itu seni sholawat. Demikian juga dalam upacara-upacara ritual tak lepas dari nuansa keislaman bahkan tradisi upacara pengantin diwarnai oleh khataman, yaitu seni membaca Al-Qur’an dilakukan secara bergantian dan serempak, disajikan setelah peresmian pernikahan.

Sentuhan seni budaya Cirebon tampak dalam arsitek sarana ibadah, lukisan dinding, bentuk kendaraan tradisional termasuk bangunan-bangunan pesantren. Sejak itu pulalah rakyat Sumedang mulai mengenal kain batik Cirebon. Perkembangan baca tulis turut memacu perkembangan sosial kemasyarakatan, sehingga babon-babon jenis wawacan sastra lisan disalin kedalam huruf Arab gundul. Perkembangan tersebut membawa Kerajaan Sumedanglarang kedalam percaturan yang lebih luas, sehingga dikenal oleh kalangan raja-raja di pulau Jawa.

Batas wilayah kekuasaan Sumedanglarang meliputi batas barat deretan pegunungan Manglayang yang memisahkan Sumedang Larang dengan Sukapura (Bandung dahulu), batas utara daerah Ujungjaya, batas timur kali Cilutung dan batas selatan deretan Pegunungan Tjakrabuana meliputi daerah Limbangan Garut.
Nyi Mas Ratu Inten Dewata mempunyai putra : (1) Pangeran Angkawijaya, (2) Demang Rangga, (3) Demang Watang, (4) Santoan Tjikeruh. Dari sejak kecil diajari ilmu kepemimpinan dan ajaran Islam. Setelah Pangeran Angkawijaya dewasa, ada tanda-tanda Ratu Pucuk Umun menyerahkan tahta kekuasaannya kepada dia, akan tetapi belum cukup usia.

Menjelang tahun 1578, tersiar berita dari para juru telik sandi yang mengkabarkan bahwa Keraton Pajajaran diserbu pasukan Surasowan Banten yang didukung oleh tentara Islam Cirebon. Tahta Nobat Sriwacana diboyong ke Surasowan Banten. Prabu Siliwangi Ragamulya atau Prabu Suryakencana berada dalam kejaran Pangalima Perang Surasowan bernama Ki Jungju, kemudian bersembunyi di hutan Pulo Sari. Sedangkan Keraton Pajajaran dibakar habis.

Di ujung tahun tersebut, Ratu Pucuk Umun kedatangan empat Kandaga Lante Pajajaran (Umbul), bernama : (1) Prabu Jayaperkasa (Sanghyang Hawu, (2) Dipati Wirajaya, (3) Prabu Pancarbuana, (4) Sanghiyang Kondang Hapa. Ke-empat Kandaga Lante sengaja datang atas perintah Prabu Siliwangi Ragamulya untuk menyampaikan Mahkota Binokasih yang terbuat dari emas murni sebagai lambang kebesaran raja-raja Pajajaran. Penyerahan Mahkota tersebut sebagai tanda bahwa Sumedanglarang adalah penerus Kerajaan Pajajaran. Setelah itu keempat Kandaga Lante menyatakan diri untuk mengabdi (geusan ulun kumawula) kepada Sumedang Larang. Mengangkat Prabu Jayaperkasa sebagai Patih Agung Sumedanglarang, ketiga Kandaga Lante lainnya ditetapkan sebagai pembantu tugas-tugas Jayaperkasa, dengan pangkat Senopati atau Panglima Perang.

Semula Ratu Pucuk Umun ragu-ragu menerima Mahkota itu, oleh karena yang berhak melanjutkan Kerajaan Sumedanglarang adalah Pangeran Angkawijaya, yang saat itu usianya kurang lebih 20 tahun, artinya belum cukup usia untuk diangkat menjadi raja. Aturan kerajaan adalah usia 22 tahun baru memenuhi syarat jadi raja. Untuk mencukupi usia tersebut harus menunggu dua tahun lagi. Selama itu Ratu Pucuk Umun memerintahkan agar Pangeran Angkawijaya berguru ilmu kepemimpinan dan ilmu Islam ke negeri Demak.

Pangeran Angkawijaya yang dikenal taat kepada perintah, meninggalkan Keraton Kutamaya dengan mendapat pengawalan Prabu Jayaperkasa. Perjalanan melintasi jalur selatan pulau Jawa, akhirnya tiba di negeri Demak. Disitulah Pangeran Angkawijaya mendapat bimbingan kepemimpinan dan keulamaan. Disitu pulalah terjadinya pertemuan dengan Ratu Harisbaya, salah satu putrid cantik jelita keturunan Pajang Madura yang sama-sama berguru atau pesantren. Pertemuan pertama melarutkan perasaan yang sedemikian dalam. Sentuhan hati menjalin kasih sayang kedua insan adam itu terhapuskan oleh waktu dan keadaan. Oleh karena Ratu Harisbaya dipanggil ke Madura untuk dinikahkan dengan Panembahan Girilaya Cirebon, yang usianya jauh lebih tua. Mau tidak mau Pangeran Angkawijaya menerima kekcewaan yang demikian berat. Kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Setibanya di Kutamaya, sikap Pangeran Angkawijaya mengusik perasaan ibunya, rupanya ia peka menyimak gelagat yang terjadi pada Pangeran Angkawijaya. Persoalan Harisbaya yang membuat putra mahkota banyak berdiam diri. Kebekuan cinta dan kasih sayang mulai mencair setelah Ratu Inten Dewata sudah menyediakan calon permaisuri putranya, tidak lain adalah Nyi Mas Gedeng Waru. Perkawinan dilaksanakan dan dimeriahkan oleh upacara adapt pengantin Kasumedangan, kedua mempelai di arak diatas Kereta Nagapaksi dan disemarakkan oleh Kesenian Rebana

Sabtu, 21 Januari 2017

Kunjungan Tim Sehat Bio 7 Radio VNK

Ibu Imi dari Ujung Jaya, Sumedang mengaku aktifitas nya seringkali terganggu akibat penyakit Magh yang di deritanya,tetapi setelah mengkonsumsi bio 7 Alhamdulillah saat ini sudah sembuh dan tidak lagi terganggu sakit magh.

Jumat, 20 Januari 2017

Kunjungan Tim Sehat Bio 7 Radio VNK

Ibu Nyai Sumiati, beralamat di kadipaten, Majalengka sudah 20 tahun menderita kangker otak, Alhamdulillah setelah berobat kemana-mana tidak sembuh, kini setelah mengkonsumsi bio 7, sudah sembuh dan bisa beraktifitas lagi tanpa terhalang rasa sakit.

Kunjungan Tim Sehat Bio 7 Radio VNK

Bp. Hasan beralamat di desa Pageraji,Maja,Majalengka sudah sembuh dari penyakit Rematik dan darah tinggi berkat konsumsi bio 7 secara teratur..